Rabu, 12 Desember 2012


KHALAF :AHLUSSUNNAH (AL-ASYI’ARIY DAN AL-MATURIDI)
            kata khalaf biasanya digunakan untuk merujukkan para ulama yang lahir setelah abad III H dengan karakteristik yang bertolak belakang dengan apa yang dimiliki salaf, diantaranya tentang penakwilan terhadap sifat-sifat tuhan yang serupa dengan makhluk pada pengertian yang sesuai dengan ketinggian dan kesucia-Nya.
            adapun ungkapan ahlussunnah (sering juga disebut dengan sunni) dapat di bedakan menjadi dua pengertian,yaitu umum daan khusus. sunni dalam pengertian umum adalah lawan kelompok syiah. dalam pengertian khusus adalah mazhab yang berada dalam barisan asy’ ariyah dan merupakan lawan mu’tazilah. pengertian kedua lah
yang dia pakai dalam pembahasan ini.           
A.  AL-ASY’ ARI
1.     Riwayat Singkat Al-Asy’ Ari
nama lengkap al-asy ‘ari adalah abu al-hasan ali bin isma’il bin ishaq bin salim bin isma’il bin abdillah bin musa bin bilal bin abi burdah bin abi musa al- asy ‘ari. menurut beberapa riwayat, al- ast ‘ari lahir di bashrah pada tahun 260 H/875M. ketika berusia lebih dari 40 tahun, ia juga hijrah ke kota Baghdad dan wafat di sana pada tahun 324H/935 M.
      al-asy’ari menganut faham mu’tazilah hanya sampai ia berusia 40 tahun. setelah itu, secara tiba-tiba ia mengumumkan di hadapan jamaah masjid bashrah bahwa dirinya telah meninggalkan faham mu’tazilah dan menunjukkan keburukan-keburukannya. menurut ibnu asakir, yang melatarbelakangi al-asy’ari telah bermimpi bertemu dengan rasulullah SAW. sebanyak tiga kali, yaitu pada malam ke-10,ke-20,ke-30 bulan Ramadan. dalam tiga mimipi itu, rasulullah memperingatkanny agar meninggalkan faham mu’tazilah dan membela faham yang telah diriwayatkan dari beliau.
2.     Doktrin-Doktrin Teologi Al-Asy’ari
formulasi pemikiran al-asy’ari, secara esensi antara formulir ortodoks ekstrim di satu sisi dan mu’tazilah di sisi lain. dari segi etosnya, pergerakan tesebut memiliki semangata ortodoks. aktualitas formulasinya jelas menampakkan sifat yang reaksinya terhadap mu’tazilah, sebuah reaksi yang tidak dapat di hindarinya. corak pemikiran yang sintesis ini, menurut watt, barangkali dipengaruhi teologi kullabiah (teologi sunni yang pelopori ibn kullab (w.854M).      pemikiran-pemikiran al-asy’ari yang terpenting adalah berikut ini.
  1. tuhan dan sifat-sifat-Nya.
perbedaan pendapat di kalangan mutakallimin mengenai sifat-sifat allah tak dapat dihindarkan walaupun mereka setuju bahhwa mengesakan allah adalah wajib. al-asy’ari dihadapkan walaupun pada dua pandangan ekstrim. disatu pihak ia berhadapan dengan kelompok mujassimah (antropomorfis) dan kelompok musyabbihah yang berpendapat bahwa allah mempunyai semua sifat yang disebutkan dalam al-qu’an dan sunnah dan sifat – sifat itu harus di fahami menurut arti harfiyahnya.
  1. kebebasan dalam berkehendak
dalam hal apakah manusia memiliki kemampuan untuk memilih, menentukan, serta mengaktualisasikan perbuatannya? dari dua pendapat yang ekstrim, yakni jabariyah yang fatalistik dan menganut faham pradeterminism semata-mata dan mu’tazilah yang menganut faham kebebasan mutlak dan berpendapat bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri.
  1. akal dan wahyu dan criteria baik dan buruk
al-asy ‘ary mengutamakn wahyu, sementara mu’tazilah mengutamakan akal.
al-asy ‘ary berpendapat bahwa bik dan buruk harus berdasarkan pada wahyu, sedangkan mu’tazilah mendasarkannya pada akal.
  1. qadimnya al-qur’an
al-asy ‘ary dihadapkan pada dua pandangan ekstrim dalam persoalan qadimnya al-qur’an. mu’tazilah yang mengatakan bahwa al-qur’an diciptakan (makhluk) sehingga tidak qadim serta pandangan mazhab hanbali dan zahiriyah yang menyatakan bahwa al-qur’an adalah kalam allah (yang qadim dan diciptakan). jahiriyah bahkan berpendapat bahwa semua huruf, kata dan bunyi al-qur’an adalah qodim. dalam rangka mendamaikan kedua pandangan yang saling bertentangan itu, al-asy ‘ary mengatakan bahwa walaupun al-qur’an terdiri atas kata-kata, huruf dan bunyi, semua itu tidak melekat pada esensi allah dan karenanya tidak qadim.Nasution mengatakan bahwa Al-Qura’an bagi Al-Asy’ari tidaklah diciptakan sebab kalau ia diciptakan,sesuai dengan ayat yang artinya;Jika kami menghendaki sesuatu.Kami bersabda,”Terjadilah”maka ia pun terjadi.”
  1. Melihat Allah
Al-Asyari tidak sependapat dengan kelompok ortodoks ekstrim,terutama nagan Zahiriyah,yang mengatakan bahwa Allah dapat dilihat di akhirat dan mempercayaai bahwa Allah bersemayam di Arsy.Selain itu,ia tidak sependapat dengan Mu’tazilah yang mengingkari ru’yatullah (melihat Allah)di akhirat.Al-Asyari yakin bahwa Allah dapat dilihat di akhirat,tetapi tidak dapt digambarkan.Kemungkinan ru’yat dapat terjadi manakala Allah sendiri yang menyebab kan dapat di lihat aatau bila mana ia mnciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihat nya.
  1. keadilan
pada dasarnya Al-Asy’ari dan Mu’tazilah setuju bahwa allah itu adil.mereka hanyaberbeda dalam memandang makna keadilan. Al-asy’ari tidak sependapat dengan Mu’tazilah yang mengharus kan allah berbuat adil sehungga Dia harus menyiksa orang yang salah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik.Menurutnya,Allah tidak memiliki keharusan apapun karena ia adalah Penguasa Mutlak.Dengan demikian,jelaslah bahwa Mu’tazilah mengartikan keadilan dari visi manusia dirinya,sedangkan Al-Asyari dari visi bahwa Allah adalah pemilik mutlak
  1. Kedudukan Orang Berdosa
Al-Asy’ari menolak ajaran posisi menengah yang dianut Mu’tazilah.Mengingat kenyataan bahwa iman merupakan lawan kufr,predikat bagi seseorang haruslah salah satu di antaranya.Jika tidak mukmin,ia kafir.Oleh karena itu,Al-Asyari berpendapat bahwa mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik,sebab iman yidak mungkin hilang karena dosa selain kufr.


B.AL-MATIURIDI
1. .Riwayat singkat Al-Maturidi
Abu Manshur Al-Maturidi dilahirkan di Maturid,sebuah kota kecil di daerah Samarkand,wilayah trmsoxiana di asia tengah, daerah yang sekarang disebut Uzbekistan. tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti, hanya diperkirakan sekitar pertengahan abad ke-3 hijriyah. ia wafat pada tahun 333 H/944 M. gurunya dalam bidang fiqih dan teologi bernama nasyr bin yahya al-balakhi. ia wafat pada tahun 268 H. al-maturidiyah hidup pada masa khalifah al-mutawakil yang memerintah tahun 232-274/-861 M.
            karir pendidikan al-maturidi lebih dikonsentrasikan untuk menekuni bidang teologi dari pada fiqih.
2.     doktrin – doktrin teologi al-maturidi
a.      akal dan wahyu
dalam pemikiran teologinya, al-maturidi mendasarkan pada al-quran dan akal. dalam hal ini, ia sama dengan al-asy’ari. namun porsi yang diberikannya kepada akal lebih besar dari pada yang di berikan oleh al-asy’ari.
menurut al-maturidi,mengatuhi tuhan dan kewajiban mengetahui tuhan dapat diketahui dengan akal. namun akal, mennurut al-maturidi, tidak mampu mengetahui kewajiban-kewajiban lainnya.
      masalah baik dan buruk, al-maturidi berpendapat bahwa penentu baik dan buruknya sesuatu itu terletak pada sesuatu itu sendiri, sedangkan perintah atau larangan syari’ah hanyalah mengikuti ketentuan akal mengenai baik dan buruknya sesuatu.
      al-maturidi membagi kaitan sesuatu dengan akal pada tiga macam, yaitu:
1.      akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebaikan sesuatu itu;
2.      akal dengan sendirinya hanya mengetahui keburukan sesuatu itu;
3.      akal tidak mengetahui kebaikan dan keburukan, kecuali dengan petunjuk ajaran wahyu.
tentang mengetahui kebaikan dan keburukan sesuatu dengan akal, al-maturidi sependapat dengan mu’tazilah.
b.      perbutan manusia
menurut al-maturidi perbutan manusia adalah ciptaan tuhan karena segala sesuatu dalam wujud ini adalah ciptaa-nya. khusus mengetahui perbutan manusia, kebijaksanaan dan keadilan kehendak tuhan mengaharuskan manusia memiliki kemampuan berbuat (ikhtiar) agar kewajiban – kewajiban yang dibebankan kepadanya dapat dilaksanakannya.tuhan menciptakan daya (kasb) dalam diri manusia dan manusia bebas memakainya. daya – daya tersebut diciptakan bersamaan dengan perbuatan manusia. dengan demikian, tidak ada pertentangan antar qudrat tuhan yang menciptakan perbutan manusia dan ikhtiar yang ada pada manusia. kemudian, karena daya diciptakn dalam diri manusia dan perbutan yang dilakukan adalah perbuatan manusia sendiri dalam arti yang sebenarnya, maka tentu daya itu juga daya manusia. berbeda dengan al-maturidi, al-asy’ari mengatakan bahwa daya tersebut adalah daya tuhan karena ia memandang bahwa perbuatan manusia adalah perbuatan tuhan. berbeda pula dengan mu’tazilah yang memandang daya manusia yang telah ada sebelum perbutan itu sendiri.
juga atas kehendak tuhan, tetapi tidak atas karenanya. dengan demikian, berarti manusia dalam faham al-maturidi tidak sebebas manusia dalam faham mu’tazilah.
c.       kekuasaan dan kehendak mutlak tuhan.
telah diuraikan diatas bahwa perbuatan manusia dan segala sesuatu dalam wujud ini, yang baik atau yang buruk adalah ciptaan tuhan. akan tetapi, pernyataan ini menurut al-maturidi bukan berarti bahwa tuhan berbuat dan berkehendak dengan sewenang – wenang serta kehendaknya semata. hal ini karena qudrat tuhan tidak sewenang –wenang (absolut), tetapi perbuatan dan kehendaknya itu berlangsung sesuai dengan hikmah dan keadilan yang sudah ditetapkannya sendiri.
d.      sifat tuhan
berkaitan dengan masalah sifat tuhan, terdapat persamaan antara pemikiran al-maturidi dan al-asy’ari. keduanya berpendapat bahwa tuhan mempunyai sifat – sifat,seperti sama,bashar, dan sebagainya. walaupun begitu, pengertian al-maturidi tentang sifat tuhan berbeda dengan al-asy’ari. al-asy’ari mengartikan sifat tuhan sebagai sesuatu yang bukan dzat, melainak melekat pada zat itu sendiri. sedangkan al-maturidi berpendapat bahwa sifat itu tidak dikatan sebagai esensinya dan bukan pula lain dari esensinya.
e.       melihat tuhan
al-maturidi mengatakn bahwa manusia dapat melihat tuhan. hal ini diberikan oleh al-quran, antara lain firman allah dalam surat al-qiyamah ayat 22 dan 23.
al-maturidi lebih lanjut mengatakan bahwa tuhan kelak di akhirat dapat dilihat dengan mata, karena tuhan mempunyai wujud walaupun ia immaterial. namun melihat tuhan, kelak di akhirat tidak sama dengan keadaan di dunia.
f.        kalam tuhan.
al-maturidi membedakan antara kalam (baca: sabda) yangn tersusun dengan huruf dan bersuara dengan kalam nafsi adalah sifat qadim bagi allah, sedangkan kalam yang tersusun dari huruf dan suara adalah baharu (hadis).al-quran dalam arti kalam yang tersusun dari huruf dan kata-kata adalah baharu(hadis). kalam, nafsi tidak dapat kita ketahui hakikatnya dan bagai mana allah bersifat dengannya(bila kaifa) tidak dapat kita ketahui, kecuali dengan perantara.
g.      perbuatan manusia
menurut al-maturidi, tidak ada sesuatu yang terdapat dalam wujud ini, kecuali semuanya atas kehendak tuhan, dan tidak ada yang memaksanya atau membatasi kehendak tuhan, kecuali karena ada hikmah dan keadilan yang ditentukan oleh kehendaknya sendiri. oleh karena itu, tuhan tidak wajib berbuat ash-shalah wa al-ashlah (yang baik dan terbaik bagi manusia). setiap perbuatan tuhan yang bersifat mencipta atau kewajiban – kewajiban yang dibebankan di kehendaakinya. kewajiban – kewajiban tersebut antara lain:
1.      tuhan tidak akan membebankan kewajiban – kewajiban kepada manusia di luar kemampuannya karena hal tersebut tidak sesuai dengan keadilan, dan manusia juga diberi kemerdekaan oleh tuhan dalam kemampuan dan perbuatannya.
2.      hukuman atau ancaman dan janji terjadi karena merupakan tuntutan keadilan yang sudah di tetapkannya.
h.      pengutusan rasul
akan tidak selamanya mampu mengetahui kewaajiban yang dibebankan kepada manusia, seperti kewajiban mengetahui baik dan buruk dan serta kewajiban lainnya dari syariat yang dibeban kepada manusia. oleh kare itu, menurut al-maturidi, akal memerlukan bimbingan ajaran wahyu untuk mengetahui kewajiban – kewajiban tersebut. jadi, pengutusan rasul berfungsi sebagai sumber informasi. tanpa mengikuti ajran wahyu yang di sampaikan rasul berarti manusia telah membebankan sesuatu yang berbeda di luar kemampuannya kepada akalnya.
      pandangan al-maturidi ini tidak jauh berbeda dengan pandangan mu’tazilah yang berpendapat bahwa pengutusan rasul ketengah – tengah umatnya adalah kewajiban tuhan agar manusia dapat berbuat baik dan terbaik dalam kehidupan.
i.        pelaku dosa besar (murtakib al-kabir)
almaturidi berpendapat bahwa orang yang berdosa besar tidak kafir dan tidak kekal di dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertaubat. hal ini karrena tuhan telah menjanjikan akan memberikan balasan kepada manusia sesuai dengan perbuatannya. kekal di dalam neraka adalah balasan untuk orang yang berbuat dosa syirik. dengan demikian, berbuat dosa besar selain syirik tidak akan menyebabkan pelaku kekal di dalam neraka. oleh karena itu, perbutan dosa besar (selain syirik) tidaklah menjadikan seseoran kafir  atau murtad. menurut al-maturidi, iman itu cukup dengan tashdiq dan iqrar, sedangkan amal adalah penyempuranaan iman. oleh karena itu, amal tidak akan menambah atau mengurangi esensi iman, kecuali hanya menambah atau mengurangi sifatnya saja.
             

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar